Kekuatan Cinta

kekuatan cinta

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini harus berani ku lawan sinar mentari. .

Berusaha berdiri tegak meski sayap sebelahku telah patah. .

Kecewa bukan satu-satunya alasan. .

Yang kan membuatku terdampar hingga tak tau arah kembali. .

Bukan satu-satunya alasan hingga aku harus menghitung. .

Berapa banyak awan hitam yang menaungi langit biru saat ini. .

Kau memberiku waktu yang indah. .

Waktu indah dimana aku mampu mencintai. .

Mencintai seseorang yang tak pernah tau bagaimana bentuk hatiku.

Kini kau telah memilih dia. .

Aku tak pernah menyesali  cinta dengan mulut yang bungkam. .

Karena aku yakin, Tuhan mampu mendengar. .

Bagaimana nyanyian hati ini, lebih dari ungkapan mulutnya padamu.

“Hmmm,.. sejak kapan kamu bisa nulis kata-kata kayak gini? Bukannya kalo ada yang puitis biasanya kamu bilang lebay?” Naira membaca tulisanku sambil menyelidiki layaknya detektif yang ingin memecahkan masalah sahabatnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi sahabatku, dia selalu ada di sampingku di setiap waktu, segala keluh kesah selalu ku sampaikan padanya. Tapi tidak dengan apa yang ku maksud dalam tulisan tersebut, dia belum mengerti apa dan siapa yang ku maksudkan.
“Hei, ditanya malah bengong.” Dia menggoyangkan tubuhku.
“Nai, sebenarnya aku dah lamaa banget jatuh cinta sama seseorang…”
Naira kaget bukan main, seakan tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutku. Dia memandangiku tajam dengan tatapan penuh tanya.
“Sebentar,. Seorang Azwa jatuh cinta??” Dia sampai kesulitan berkata-kata.
“Aku manusia biasa Nai, sekeras apapun tingkah dan ucapanku. Aku punya nurani sebagai wanita. .”
“Terus siapa orangnya??”
“Ha??”Aku mengeryutkan kening.
“Siapa orang beruntung yang udah meluluhkan hatimu yang sekeras batu itu?? Jangan bilang Henry si kutu buku yang suka godain kamu, ato Ega yang suka jahilin kamu, ato jangan-jangan si culun Mamat lagi. .”Naira terus saja menggoda.
Aku tersenyum “Salah semua Nai, kamu tu, aku kira cuma kamu orang yang paling kenal sama aku. .”
“Ya ampun Az, tiap hari yang kamu omongin gak ada yang lain selain BEM. Mana aku tau kalo kamu jatuh cinta. Aku malah ngira kamu udah mati rasa sama cowok”
Tawa memecah suasana dalam kamar, Naira memang sering tidur di rumahku. Meskipun dia bukan anak yang aktif berorganisasi pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), tapi kita sudah menjalin persahabatan semenjak SMP, aku tak pernah melihat apakah dia juga berdarah organisasi sepertiku, yang aku tahu dia baik, tak pernah meninggalkan meski aku sering sekali meluapkan kekesalanku padanya. Terkadang memang dia tidak nyambung dengan apa yang ku bicarakan, tapi yang pasti, dia selalu menjadi pendengar setia.
“Siapa Az, ayo dong bilang. .”Naira makin penasaran.
“Berat banget sebut namanya. .”Aku menunduk. “Menurutmu siapa Nai??”
“Sebenarnya aku curiga sama satu orang, tapi gak tau juga itu benar apa enggak”
“Siapa??”
“Dzikri ya??”Sebutnya ragu-ragu.
Aku tersenyum kecut “Iyaa…” Jawabku ringan.
Oh my God, jadi benar dugaanku selama ini. Kenapa bisa kayak gini sih kamu Az?, bukannya kalian sering bertengkar, suka berdebat, dia sainganmu waktu nyalonin ketua BEM? Az, aku sebagai tim sukses yang kemana-mana selalu jelek-jelekin dia gak trima kalo kamu pada akhirnya kayak gini.”
Aku menatap jauh ke luar jendela, menatapi segala makhluk ciptaan Tuhan di sekitar sana, teringatlah sesuatu. Ya, akhirnya aku mulai menceritakan hal ini pada sahabatku, orang pertama yang tahu bagaimana isi hatiku.

“Sudah lama aku melihat sosok Dzikri, sejak SD, bahkan sebelum ada yang menyukainya seperti sekarang yang pada rebutan. Aku sudah tertarik padanya. Kemudian SMP, meskipun tidak satu sekolah, tapi setiap hari dia lewat di depan rumahku, aku masih ingat setiap pulang sekolah, belum makanpun aku selalu duduk di luar rumah hanya karena ingin melihat dia. SMA kita satu sekolah, waktu itu masih ingat? banyak sekali teman kita yang naksir dia. Aku pikir stop mengagumi orang yang udah banyak penggemarnya, malah bikin sakit hati.
Hmmm, Lama gak merhatiin dia, tau-tau pas kuliah ketemu lagi dalam organisasi yang sama. Sebenarnya waktu kita saingan itu aku agak sedikit risih, aku udah pesimis aja. Aku pikir pasti Dzikri yang jadi, kan hampir semua mahasiswi pada nge-fans sama dia, taunya malah aku. Bener-bener gak abis pikir, waktu itu aku malah merhatiin dia dan merasa bersalah entah kenapa, tapi aku juga gak punya alasan untuk minta maaf. Sekarang kita justru seperti musuh yang hampir tiap ada rapat selalu beda pendapat, entah dia ada dendam atau emang kita gak pernah sepaham aku gak tau.”
Naira mendengar ceritaku sambil manggut-manggut, ia juga berlagak seolah sedang berada pada situasi yang aku alami.
“Kamu jadi ketua BEM itu karena usahanya Iqbal yang luar biasa Az. .”
“Ya aku tau, aku juga ngucapin makasih ke dia. .”
“Jadi Az, selama ini kamu suka sama Dzikri? Dan sedikitpun kamu gak bilang? Minimal kamu tunjukkinlah rasa suka kamu. .”
Aku menggeleng “Enggak Nai, aku akan tetap jadi diriku sendiri. Aku ingin seperti Fatimah Az Zahra yang mencintai Ali bin Abi Thalib tanpa berkata apa-apa tapi akhirnya mereka sampai juga ke pelaminan.”
“Sekarang bukan lagi jamannya diam-diaman Azwa, kalo kamu kayak gini ya keburu Dzikri di ambil orang. Semua cewek yang naksir dia itu berlomba-lomba dapetin dia, kalo kamu cuma diam kamu gak akan dapat apa-apa. Akhirnya kamu yang gigit jari.”
“Aku perempuan Nai, meskipun aku mencintai laki-laki aku juga harus menjaga kehormatanku. Maaf aja, tapi aku gak pengen pakek cara-cara yang murahan. Misalkan karena kita satu organisasi kemudian aku cari-cari kesempatan untuk berduaan, aku gak pengen kayak gitu.”
“Jadi menurutmu mereka semua yang berusaha mengambil hatinya Dzikri dengan mendekati dia itu murahan?”
“Bukan begitu, itu cara mereka, tidak bisa di samakan dengan sudut pandangku. Dan diam adalah caraku, pilihanku.”
Naira menghela nafas panjang, mungkin dia baru menyadari bahwa temannya ini kolot dan bodoh.
“Aku bener-bener heran, dihadapan orang-orang kampus kamu berdiri sebagai sosok yang ditakuti, kalo ada yang gak beres kamu demo tanpa ada gentar. Tapi masalah cinta kamu cuma diam, bahkan sama sekali tak ada usaha untuk mendekatinya.”
“Usahaku do’a Nai, aku meminta hati orang yang ku cintai dengan merayu siapa yang bisa membolak-balikkan hatinya, dan hanya Alloh yang mampu untuk itu.”
“Oke terserah dengan pendapatmu. Sekarang aku tanya, apa maksud tulisanmu ‘kau telah memilih dia’?”
“Dia lebih memilih Rhena, usahanya mendekati Dzikri udah berhasil.”
“Kamu udah memastikan Dzikri benar-benar memilih Rhena?”
Aku mengangguk “Aku liat dari BBM mereka yang sering update status berbalasan, trus lagi kamu ingat gak kejadian tiga minggu lalu waktu kampus kita ngadain pensi dan kamu brantem sama Rhena gara-gara dia ngundang Band besar dari Jakarta?”
Mengingat itu Naira kembali berapi-api, rasa marah yang hampir hilang selama tiga minggu kini tersulut kembali. .
“Ya gimana aku gak sebel coba, aku emang bukan anak BEM, tapi aku dipercaya sebagai panitia sie acara, aku tanggung  jawab penuh acara itu. Dan bisa-bisanya dia datang ngrubah semua acara tanpa bilang aku, habis itu waktu evaluasi dia nyalah-nyalahin aku. Dan gilanya, Dzikri abis-abisan belain dia. .” Naira tiba-tiba terdiam menyadari kalimat terakhir yang ia ucap, ia melirikku.
“Ingat kan gimana Dzikri belain dia waktu itu? Bahkan sampek teriak-teriak ngomong ke aku. .”
Naira manggut-manggut, aku bercerita “Waktu kita lagi berdua, aku sempat bicara sama dia. .”

“Dia sengaja menungguku habis kuliah karena ingin membicarakan waktu evaluasi itu, dia ngajak aku ngobrol di ruang BEM berdua..”
Ingatanku kembali saat beberapa minggu kemarin Dzikri yang selama ini bagaikan musuh datang menemuiku dengan wajah manis untuk pertama kalinya. .
“Azwa, kenapa pertemuan kemarin bikin kita seolah-olah bukan organisasi kampus, tapi justru seperti anak-anak urakan. Marah-marahan satu sama lain, nyampek’in pendapat aja pake teriak-teriak. .”Dzikri memulai.
“Naira sie acara Dzik, dia udah mengatur segalanya dengan baik tapi Rhena merubah semuanya, cuma itu masalahnya. Sebenarnya sepele, tapi gak bisa dibikin gampang juga.”
“Kamu sebagai ketua BEM harusnya netral dong, bukan terkesan memihak Naira kayak kemarin. Aku tau Naira temanmu, tapi bukan berarti kamu mojokin Rhena.”
“Aku gak mojokin Rhena, aku masih baru ngomong kamu uda motong. Awalnya aku emang mau mengingatkan sikap dia yang salah, tapi nanti pada akhirnya aku juga akan memarahi Naira, aku belum selesai ngomong kamu udah asal aja motong omonganku, sambil teriak-teriak lagi..”
“Rhena itu gak punya mental yang kuat kayak kamu Az, dia itu lemah. Baru kamu ngomong kayak gitu aja dia udah mau nangis, makanya aku belain dia supaya seolah-olah dia gak dipojokin.”
“Salah dia sendiri kenapa cari gara-gara kalo gak punya mental yang kuat buat di kasih peringatan. Udah jelas kan setiap acara ada yang ngatur, kenapa dia sok kesibukan ngatur yang bukan jadi tugas dia??”
“Yang dia pake’ konsepnya pak Yogi Az, pak Yogi usul ke dia trus dia menghargailah yang namanya dosen kan..”
“Menghargai boleh, tapi semua kan butuh pertimbangan. Tidak semua pendapat bisa kita terima Dzik, kita ada panitia, mereka mengonsep juga butuh tenaga dan pikiran.”
Dzikri diam sejenak, lalu melanjutkan “Kamu tau?, waktu acara itu aku gak muncul gara-gara nenangin dia yang lagi nangis karena dilabrak sama Naira.”
“Jangan sembarangan ngomong kamu, Naira juga gak bakal marah kalo gak ada sebabnya. Lagian semua orang lagi repot sama acara itu kenapa ngurusin satu orang yang gak penting?”
Dzikri menghela nafas “Terus siapa yang menurutmu salah dalam hal ini?” Tanyanya.
“Semua orang juga kalo ditanya bakal tau siapa yang salah.”
“Az, pemimpin itu harus berani mengaku salah, bahkan mengambil kesalahan bawahan sebagai kesalahannya. Jangan memperkeruh keadaan dengan membenarkan salah satu yang berdebat, setelah itu baru kamu nasehatin yang salah, tapi nasehatinnya empat mata aja. Supaya dia tidak merasa di jatuhkan harga dirinya di depan orang banyak.” Kata-katanya yang sampai saat ini masih ku ingat.
Cerita itu berakhir saat ku lihat Naira tertidur pulas, akupun berbaring di sampingnya sambil berusaha memejamkan mata yang rasanya enggan untuk terpejam, lama-lama aku terlelap juga meninggalkan segala beban yang ada di pundakku.

Pagi ini ku langkahkan kaki dengan ringan, berjalan seperti biasa, lebih belajar untuk tersenyum ke banyak mahasiswa supaya tidak lagi ada yang sungkan bahkan takut denganku yang dikenal sebagai ketua BEM. Sebenarnya aku ingin lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman mahasiswa, tapi mereka melihatku saja seperti melihat presiden yang harus di hormati dan di takuti. Proses, butuh waktu untuk lebih dekat dan memahami mereka agar mampu menjadi pemimpin yang baik.
Di ujung sana aku melihat Dzikri dan Rhena berbicara nampak serius, bahkan sesekali Dzikri berbicara sambil jongkok di bawah Rhena yang duduk di kursi taman, seperti orang yang sedang memohon. Segera ku palingkan pandanganku sambil menepis perasaan cemburu sekuat-kuatnya.
“Az,..” Naira menarik lenganku menuju ke tempat yang sepi.
“Ada apa sih Nai?” Aku kebingungan.
“Teman-teman dari PMI berencana demo dan mengajak seluruh teman-teman mahasiswa untuk menurunkan kamu. Pleace, jaga mentalmu ya. .”
Aku terhenyak “Memangnya aku ada salah apa?”
“Yang aku dengar katanya selama kepemimpinanmu, PMI gak pernah ada kegiatan, gak ada kegiatan yang menarik juga di kampus kita. .”
“Bukannya ketua PMI Dzikri?” Aku terheran, kecewa.
“Berarti semua ini Dzikri otaknya?” Naira bertanya, perlahan aku seperti lemas dan kepalaku mendadak pusing, tapi aku berusaha untuk kuat dan harus kuat.
“Aku akan hadapi semuanya..” Jawabku menggenggam tangan Naira kuat.
Benarlah, ketika aku berjalan menuju halaman, aku melihat bagaimana banyaknya mahasiswa demo sambil berteriak-teriak di depanku, semuanya mengangkat tangan kanan yang mengepal sambil terus berorasi. Ku lihat Dzikri hanya berdiri dari kejauhan melihat ini, sebagai bos tentu dia hanya mau memantau.
“Demi kampus kita tercinta, turunkan Azwa sebagai ketua BEM. Kita butuh pemimpin yang cerdas, cekatan, dan mampu memajukan kampus kita..
bukan hanya bengong, gayanya aja suka marah-marah, sok galak, sok pintar tapi otaknya nol.” Salah satu dari mereka berteriak di susul yang lain.
“Tenang dulu teman-teman, saya pikir kita yang di sini sama-sama berpendidikan. Kita bisa membicarakannya baik-baik untuk menyelesaikan segala permasalahan yang kalian keluhkan.” Aku mulai berbicara dengan terus berusaha untuk kuat menghadapi puluhan mahasiswa yang seakan ingin menerkamku.
“Huuuu…….” Semua menyoraki.
Tiba-tiba ada satu telur busuk mengarah ke wajahku, banyak dan semua melempar, ku pejamkan mataku erat, tak terasa lagi telur busuk mengarah ke wajahku, ku beranikan diri membuka mata. Ternyata Iqbal berada di depanku menjadi tebeng saat semua orang melempariku. Ya Tuhan dia begitu baik kenapa bukan padanya hatiku harus jatuh cinta, justru dengan orang yang ingin menghancurkanku. Air mataku jatuh tak tertahan melihat Dzikri jauh di depan sana yang tak berkedip memandangi ini dengan Rhena di sampingnya, mereka terlihat berbincang dengan santainya.

“Makasih Iqbal kamu udah belain aku.” Kataku setelah kita sama-sama ganti baju.
It’s oke Az…..” Katanya meminum teh botol sambil memandangiku.
“Azwa kamu jelek deh, liat bajumu kuning jilbabmu ijo. Gak matching banget.” Candanya membuatku sedikit tersenyum.
“Besok akan ku urus surat pengunduran diriku sebagai ketua BEM” Kataku sambil duduk di sampingnya, ia meletakkan botol minum yang di pegangnya.
“Gak Az, aku gak setuju. Cuma gara-gara kejadian ini kamu nyerah?? Sumpah ini bukan Azwa yang aku kenal. Kamu pernah di buli, pernah di fitnah di depan dosen, kamu sudah mengalami yang lebih dari ini dan kamu mampu menghadapinya.”
Iqbal meyakinkanku, padahal dia tak tau rasa sakit yang ku rasakan karena aku melihat orang yang ku cintai otak dari keributan ini, dia ingin menghancurkanku. Mengingat itu semua, air mataku jatuh di depan Iqbal, ia memberiku tissue.
“Apa yang membuatmu rapuh Az?”
“Kau tau Iqbal?, terkadang merpati tidak cukup kuat untuk terus mengibaskan sayapnya, dan dia akan jatuh ketika merasa lelah tapi belum menemukan pohon untuk menopangnya.”
“Aku yang akan jadi pohonnya, aku yang akan menopangmu saat kamu merasa lelah, aku akan menjagamu sampai kapanpun, aku akan selalu di sampingmu, dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melawan siapapun yang memusuhimu. Tapi tolong, jangan menyerah. Karena Azwa yang aku kenal adalah wanita yang kuat dan tegar.”
“Makasih banyak, aku gak tau harus ngomong apa sekarang.”
“Aku mencintaimu Azwa, biarkan aku menjagamu dengan tanganku.”
Aku terkejut, tak pernah ku sangka Iqbal mengungkapkan kata cinta kepadaku. Dia yang ku anggap sahabat, ku anggap sebagai kakak ternyata menaruh hati padaku. Tapi aku terlalu takut melihat mahasiswa yang memandangku sinis, bagaimana bila aku menolak Iqbal dan dia juga akan memandangku sinis?.
“Beri aku waktu untuk…….”
Dia memotong pembicaraanku “Tidak, bila kau bicara seperti itu aku tau kau akan menolak cintaku. Aku ingin mendengar jawaban itu sekarang.”
Aku bingung, ku lihat Dzikri jalan berdua dengan Rhena di depanku. Dzikri melihatku sekilas tapi terus saja mengobrol dengan Rhena, mungkin dia ingin tahu apakah aku sudah benar-benar hancur atau belum.
“Iya Iqbal, mudah-mudahan kita memang berjodoh.” Kata itu terlontar juga dari bibirku, dengan pandangan yang tak lepas dari Dzikri bersama Rhena di sampingnya.
Inilah hidupku sekarang, dan harus berani ku hadapi kenyataan, memulai lembaran baru bersama Iqbal yang mencintaiku, melupakan harapan-harapan palsu tentang Dzikri yang telah berusaha menghancurkanku.
     to be continue. . . .

One Response to “Kekuatan Cinta”
  1. arip says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE