Untaian Kata Pembakar Jiwa

Mau nulis bingung apa yang mau di tulis, kalo gak nulis kangen juga udah lama gak ngetik-ngetik, akhirnya bongkar-bongkar puisi lama deh mudah-mudahan ada yang suka.hehe

Saya pertama kali bikin puisi kelas 5 SD, kebanggaan dalam diri saya waktu itu karena dapat nilai tertinggi di kelas yaitu 85. Sejak saat itu makin hari saya makin suka nulis, nulis puisi, cerpen, ada juga satu judul cerita yang pernah saya tulis kira-kira sampai 200an halaman. Sayangnya tulisan itu hilang di pinjami sama teman sampai saya lupa siapa yang terakhir minjam(mau bilang novel kayaknya terlalu berlebihan.hehe).

Pas waktu sekolah, ketika teman-teman saya mengidolakan artis mereka masing-masing, diam-diam saya juga mengidolakan seseorang. Idola yang gak pernah saya ceritakan ke siapapun, takut diketawain soalnya. Ya, saya mengidolakan Chairil Anwar. Sekarangpun saya masih suka baca puisi-puisi beliau, dalam hati saya ingin suatu saat bisa menjadi sastrawan besar walaupun tidak kuliah di jurusan sastra (harapan sama kenyataan jauh.hehe).
Ini corat-corat kurang pentinglah mungkin, tapi mudah-mudahan yang baca bisa ngambil pesan yang saya sampaikan dalam tulisan sederhana ini. .

 

Fantasi Dalam Nyata

Terus bersandar dalam asa..
Dunia milik mereka..
Tapi fantasi punya kita..
Jalan ini berliku kawan..
Tengadahkan saja wajahmu..
Ambil gitar dan bernyanyilah..
Bermain dengan nada dan tawa..

Adakala singa mengaum tepat di daun telingamu..
Tahan gertaknya dengan sayapmu..
Berpura tuli tetap berkepal kekar..
Usap wajah kusut dengan jemari..
Lambaian lonceng berbui misteri..
Gulirkan denyut di jantung dan nadi..

Jangan tutup kelopak matamu. .
Untuk kembali berkelok, gempur berbelok..
Bila suatu saat kau merasa lelah..
Perlu untuk berpeluk jendela baja..
Beberapa detik saja cukup kan berlalu..
Dan bangun andaikan fajar horison. .
Sunggingkan senyum di wajahmu..

Aku tahu keringat itu bercucuran..
Aku tahu air mata itu berjatuhan..
Tapi harus kau pahami. .
Roda terus berputar. .
Akan ada masa..
Di mana dunia memberimu tahta….

 

cahaya

 

Menari di Atas Duri

Mengerti kan maksudku. .
Tetap tegak dan menari di atas duri. .
Mengusap peluh berceceran. .
Telan seluruh peluru bertebaran. .
Dengan apa harus ku bentak??
Henti basahi bumi dengan air mata…
Tengok mentari masih bersinar. .
Picik hanya tuk dengar keluhmu.

Ah,..Sangkalmu memang terlalu drama. . .
“Begitu banyak kegelapan yang sudah ku lewati. .”
Lalu bagaimana kau dapat terang bila berhenti karena asa yang putus??
Tersenyumlah dalam gelap. .
Seperti rembulan kian berbinar. .
Meski berselimut bara derita. .
Terang kan datang sanjungimu. . .
Karena hari tiada pernah selalu malam. .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE