Sedudo Ninggal Tresno

Sedudo

Pagi ini, kaki gunung Wilis terlalu cerah untuk ku nikmati dinginnya yang terakhir kali. Kehijauan yang setiap fajar menyapa mata dan tubuhku, entah kapan akan menjadi milikku lagi. Bening dan sejuknya aliran air terjun Sedudo entah kapan akan ku sentuh lagi. Ranumnya mawar, harumnya cengkeh, dan jalan yang meliuk-liuk indah akan segera menjadi kenangan, semua akan ku akhiri hari ini.

Hari ini, sepertinya perasaanku terlambat untuk mengerti. Bahwa namanya ada dalam pikiranku meskipun aku belum sempat memberanikan diri untuk berharap pada hatinya. Dua bulan saja berada di istana KKN ini ternyata mampu membuatku jatuh cinta, bukan hanya pada alam ini, bukan hanya pada desa ini, bukan hanya pada anak-anak dan sahabat-sahabatku disini, tapi juga pada dia, Misbahul Azam.

“Aku masih ragu dengan hatiku, memilih diantara beberapa, dan salah satu dari beberapa itu adalah kamu”. Apa arti kata-katanya ini sengaja untuk membuatku berani berharap padanya?. Tidak, aku belum tau rasa apa yang muncul ini, sekedar kagum, atau hanyalah karena candaan sahabat-sahabatku yang selalu menyebut kami berdua.

Satu hari, iseng-iseng aku temukan HPnya tergeletak di lantai tempat kami biasa berkumpul santai. Dengan iseng pula aku lihat galerinya, berniat mengirimkan foto-foto yang mungkin bisa ku pindahkan ke HP ku. Dan….senyum simpul tiba-tiba terbentuk di bibirku. Dua, tiga bunga mawar serasa berjatuhan di perasaanku, entah hanya merasa GR atau itu petunjuk, ada rasa suka dengan sikapnya setelah aku melihat dia menyimpan fotoku di galeri Hpnya yang entah kapan dia mengambil gambarku itu. Secara diam-diam.

Senja semakin menguning, bahkan gelap mulai menyelinap muncul, pertanda hari ini sudah akan berakhir. Tiba-tiba saja aku sangat ingin pulang. Melihat tawa dan mendengar teriak adik kecilku di rumah. Mencium tangan ayah bundaku. Dan merasakan masakan beliau, yang menurutku  sangat lebih menarik dari pada menu di sini. Aku rindu ingin pulang. Aku dengar Pak Azam akan pulang juga, dan kebetulan kami searah. Sempat berbisik dalam hati jika aku pulang dengannya. Tapi sedikit kecewa, menurutku  sikapnya sedikit enggan pulang bersamaku. Dan sebuah ketidak mungkinan jika aku memaksanya.

Fajar esok harinya, entah karena apa dia menawariku pulang bersama, dan ia benar-benar membawaku di atas motornya untuk pulang. Bahagia rasanya, kerinduanku pada halaman rumah akan terpenuhi setelah beberapa minggu aku tak menyambangi rumahku sendiri.  Terimakasih Pak Azam, begitulah biasanya kami saling memanggil. Pak dan Bu.

Sejak itu, aku mulai merasa selangkah lebih dekat dengan Pak Azam. Dan alam sekitar  pun ku  rasa mulai mendukung. Begitu juga sahabat-sahabatku. Tanpa ku paksakan, tanpa juga ku sadari, aku mulai nyaman berada di rumah ini. Entah ku sadari pula atau tidak, dalam hati selalu ingin tahu apa yang dia lakukan, dengan siapa dia berbicara, dan apapun tentang dia, aku selalu ingin tahu. Sepertinya ada rasa yang harus mulai ku waspadai dengannya. Tapi aku belum berani menyebut bahwa aku jatuh cinta.

Benarkah selalu ada cinta di KKN?. Mungkinkah aku akan menjadi salah satu pelaku itu?.  Aku dan dia?.  Yang jelas, aku masih sama, belum bisa menjawab. Yang ku tahu selama ini, hanya ada rasa yang ingin ku tepis. Saat dia terlihat nyaman dengan cewek lain. Ketika dia bercanda dengan sahabat-sahabatku yang lain. Aku selalu tak ingin melihatnya.

“hei mbak, kenapa?”

“he gak ada apa-apa. Mereka terlihat dekat ya akhir-akhir ini!”, kataku penasaran dengan kedekatan Pak Azam dan Mbak Nisa.

“ehm, ehm yang cemburu! Aku juga gak tau sih ada apa, aku juga penasaran. Tapi santai saja mbak orang mbak Nisa itu sudah punya cowok kok! Oke, hehehhe” tawa Mbak Ani terasa sedikit meledekku.

Inikah maksudnya, bingung memilih diantara beberapa. Mbak Nisa, Mbak Ani, dan salah satunya Aku?

Mbak Ani? Aku menyebutnya diantara beberapa yang Pak Azam maksud? Mbak Ani memang selalu terlihat mendukungku. Memberiku semangat. Dia juga teman ceritaku tentang Pak Azam. Tapi beberapa minggu terakhir ini, dia terlihat lebih dekat dengan Pak Azam juga. Apa maksudnya? Aku belum pernah bisa memahami. Yang aku ingat, mbak Ani pernah bilang akan mendukung kedekatanku dengan Pak Azam.

KKN sudah tinggal beberapa hari lagi. Tapi hatiku masih belum cukup berani berkata. Yang aku mulai sadari, mungkin aku cemburu dengan sikap Pak Azam pada mereka, Mbak Ani? Mbak Nisa?. Mereka berdua sahabatku, munghkinkah aku harus mengulang masa lalu. Cintaku untuk sahabtaku lagi? Oh Tuhan….

KKN sudah berakhir. Kini kami pulang dengan hati yang berbeda-beda. Dan  di hatiku hanya ada kekhawatiran jika aku rindu padanya, Pak Azam. Sepandai mungkin aku berusaha menutup rasaku. Tapi ternyata kabut mendung pagi itu tak cukup mau menutupi perasaanku untuk tidak sakit hati. Ada apa antara mereka berdua? Pak Azam dan Mbak Ani?. Aku semakin ingin tau!

Pagi itu, mendung langit-langit kotaku terasa berkeliaran. Namun, ukhuwah diantara teman-teman KKN ingin tetap kami jaga, kami akan liburan bersama. Saat itu ada rasa yang berbeda ketika aku melihat Pak Azam dan Mbak Ani, tapi aku coba untuk perlahan mengerti. Dan akhirnya, kabut mendung itu terasa semakin mendung untukku. Sebisa hati, ku tahan perih ini untuk tidak menangis. Rasanya aku hanya ingin berteriak, aku kecewa!!! Aku sangat kecewa!!! Sahabatku Ani, sebenarnya aku sangat cemburu. Mana semangatmu yang dulu selalu kamu berikan untukku? Mana doa-doa yang dulu selalu kamu harapkan untuk aku dan Pak Azam? Dulu aku titipkan sedikit harapanku untuk Pak Azam kepadamu. Dimana titipanku itu sekarang?.  Sayangnya, aku hanya berani dalam hati, tak ingin suasana indah bersama ini ku basahi dengan egoku menangisi sikapnya, meskipun ini sangat tak adil bagiku.

Saat itulah aku merasa benar-benar sangat terlambat untuk mengerti. Bahwa hati Azam untuk dia, sahabatku sendiri. Betapa aku harus merasa bodoh selama ini, cerita pada orang yang juga punya hati padanya. Hatiku, hatimu, dan hatinya, semua memang punya cara yang berbeda untuk jatuh cinta. Cinta lahir untukku, untukmu, dan untuk dia, juga melalui jalan yang tak sama. Masing-masing punya rasa, yang tak seorangpun bisa memaksa. Tapi kenapa? Kenapa harus antara kamu dan dia, Ani?

Dulu aku terlalu takut merangkai cerita dengan imajiku sendiri sampai muncullah dia yang mengajariku sedikit untuk berharap. Namun sekarang, segala rupa, rasa, dan warna telah menjadi bagian dari kanvas yang sebatas ku lukis dengan imaji pula. Suka, duka, tangis, dan  tawa, juga menjadi bagian  dari cerita yang ku cipta dengan hati. Tapi sayangnya, bahasa hatiku mungkin tak terbaca oleh mereka. Dan saat ini pula, aku harus mengerti bahwa cintaku hanya sebatas di istana  KKN. Dan harus ku tinggalkan dia di bawah  derasnya gemercik air terjun Sedudo.

Sampailah kini pada akhirnya, Sedudo ninggal tresno!

Berbicara tentang cinta, tak akan pernah ada habisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE