Menggambar Bebas

Alam pegununganSaat itu aku masih 7 tahun, kira-kira kelas I SD. Aku memang tak pandai dalam bidang kesenian. Menggambar, melukis, membuat kerajinan tangan itu semua bukan keahlianku (entah apa sebenarnya keahlianku ini). Bahkan menggaris dengan penggaris pun sering bengkong (baca: tidak lurus). Kalau guru memberi tugas menggambar bebas saat pelajaran kertakes, pasti yang ada dalam pikiranku adalah sebuah pemandangan berupa pengunungan yang menjulang tinggi dengan matahari yang bersinar di tengah pegunungan, di bawah pegunungan terdapat rumah kecil dikelilingi pohon yang rindang. Sebagai pelengkap keindahan, biasanya ada tambahan awan dan burung beterbangan di atas atap rumah dan menurutku itu adalah hasil karyaku yang paling indah.

Berbanding terbalik dengan temanku yang lain, mereka sangat bersemangat ketika pelajaran kertakes dimulai. Menurutku pelajaran itu sangat menyiksa batinku (lebay dikit). Bagaimana tidak, tiap kali guru memberi tugas menggambar, teman-temanku langsung tancap gas dengan pensil, buku gambar dan peralatan lainnya. Mereka sibuk berimajinasi untuk mendapatkan gambar yang menarik dan hasil yang memuaskan. Sedangkan aku… aku hanya termenung, terdiam tak berbuat apa-apa. Mencoba berimajinasi seperti yang lain, mencari objek yang cocok kugoreskan di buku gambar milikku. Alih-alih menemukan gambar yang menarik, hanya pemandangan alam berupa pegunungan yang kembali mengisi pikiranku. Arrrggggghhhh!!!! Itu lagi-itu lagi. Mau tanya pendapat temen tentang gambar apa yang menarik, pasti gak dijawab, mau niru gambar temen, dikira nyontek (emang nyontek sih kenyataannya). Sebenarnya kalau memang kepepet gak nemu gambar satu pun selain pegunungan, nyontek punya teman bisa aja sih tapi apa kata dunia?????Gambar kok nyontek, emang ulangan matematika. Hadeeeh!!!

Kadang aku merasa eman (baca:gak rela) bila buku gambar itu ku isi dengan goresan tanganku sendiri soalnya gambar dan bukunya tak sebanding, artinya lebih bagus buku gambarnya daripada hasil karyanya. Tak jarang aku merasa iba memandangi karyaku di buku itu, gak tega rasanya dan disitu kadang saya merasa sedih.

Pelangi di atas rumahku

Waktu SD aku punya 2 teman, bisa dibilang sahabat karib. Kemana-mana kita selalu bertiga, bermain bersama, belajar bersama. Suatu hari kami bertiga berselisih paham yang membuatku jadi terkucilkan dari mereka berdua. Apesnya hari itu bertepatan dengan pelajaran kertakes. Kalau kita sedang rukun biasanya aku selalu meminta untuk membuatkan gambar, entah itu gunungnya, awannya, rumahnya, burungnya (loh, kok jadi semuanya). Dan hari ini aku benar-benar kebingungan, seolah-olah tak ada teman yang bisa membantuku. Berimajinasi juga percuma, pasti yang muncul pemandangan pegunungan itu lagi. Terpaksa aku menggambar itu lagi tapi kali ini berbeda. Aku menggambar sambil sesenggukan di bangkuku, aku menangis seorang diri. Guru yang melihatku menangis akhirnya datang menghampiriku dan bertanya padaku tapi aku tak sanggup menjawabnya. Dengan iba Bu guru memberi penghargaan berupa nilai di buku gambarku yang tak seberapa itu dan menyuruhku untuk pulang ke rumah lebih awal. Aku tak bisa membayangkan apa yang ada dalam pikiran teman-temanku ketika melihatku tiba-tiba menangis. Entah bingung, senang atau sedih seperti diriku. Tanpa pikir panjang lagi dan sudah mendapat ijin dari guru untuk pulang lebih awal, akupun segera keluar dari kelas karena sudah tak sanggup menahan malu di hadapan teman-temanku.

Menurutku fenomena menggambar bebas yang identik dengan pemandangan alam berupa pegunungan tidak hanya terjadi padaku saja. Bahkan adik dan keponakanku menggambar pemandangan yang sama ketika masih duduk di bangku SD. Pegunungan dan Pegunungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE