Kekuatan Cinta II

poto

Butuh waktu tiga bulan untuk menenangkan para mahasiswa yang ingin melengserkanku dari BEM, apalagi anak-anak PMI yang menjadi barisan terdepan mengawal mahasiswa yang lain. Tapi nyatanya presiden PMI tak berani memunculkan diri memimpin anak buahnya, hanya berani menyuruh dan bersembunyi di balik mereka agar terlihat tak ikut campur. Beruntung aku memiliki Iqbal, mati-matian ia meluruskan masalah dengan berusaha menyadarkan mahasiswa sampai para dosen untuk membersihkan nama baikku.

Aku tak tahu bagaimana perasaanku terhadap Iqbal, di sisi lain aku ingin mengucapkan terima kasih yang terkira untuk usahanya membelaku, menemaniku, dan melindungiku dari amukan mahasiswa. Tapi entah kenapa aku tak merasakan getaran apapun saat bersamanya seperti saat berada di samping Dzikri walaupun kita sudah jarang sekali bertemu, belakangan ia juga terlihat banyak diam di beberapa rapat, tidak seperti biasa selalu silang pendapat denganku.

Dzikri memang cool, sedikit egois dan keras kepala. Ya Tuhan, kapan aku berhenti memikirkan Dzikri? Aku lelah dengan perasaan ini, aku sudah memiliki Iqbal yang jauh lebih baik.
Tak terasa aku sudah berada di depan pintu rumah Rhena, menikmati perjalanan dengan lamunan benar-benar membuatku terlihat bodoh.

“Hei, masuk Az. . .” Sapanya sambil mempersilahkanku duduk.
“Bentar ya aku cariin, soalnya udah lama sejak kamu dilantik gak aku otak-atik lagi arsip-arsip dari mas Rizal. .”
“Iya Rhen, nyantai aja kali. .” Jawabku tersenyum.
Rizal adalah kakak Rhena yang dulu ketua BEM sebelum aku, kini Rizal sudah diterima bekerja di Autralia, sedangkan dokumen-dokumen penting milik BEM belum sempat diserahkan secara resmi kepadaku.
Tak lama kemudian Rhena kembali dengan membawa tas ransel yang kelihatan lusuh meski sudah dibersihkan, ia meletakkan tas itu di meja.
“Maaf ya Az agak kotor, soalnya udah gak pernah dibuka hampir setahunan lalu. Aku juga lupa mau ngasih ini ke kamu, padahal sebelum Rizal ke Australi sudah pesen supaya dikasihkan kamu. Maaf ya…..”
“Gak papa Rhen, . .”Jawabku sambil tersenyum.
Tiba-tiba ada suara seseorang keluar dari kamar. Astaga, Dzikri keluar dari salah satu kamar di rumah Rhena, wajahnya terlihat seperti telah bangun tidur. Tak sadar aku memandang Dzikri tanpa henti.
“Udah lama Az?” Sapanya.
“Lumayan…” Jawabku dengan suara terputus.
“Rhena, aku pulang dulu ya, tadi aku ada janji sama Naira.” Kataku terburu-buru karena tak ingin lebih lama lagi melihat mereka berdua.
“Kok buru-buru Az? Baru mau aku bikinin minum.” kata Rhena
“Iya nih, tadi ada janji sama Naira soalnya. Dia bisa ngamuk-ngamuk kalo aku sampek telat” Rhena tersenyum mendengar alasanku.
“Ya udah makasih banyak low, maaf banget tasnya lusuh. .”
“Iya gak papa. . .” Jawabku sambil berpamitan meninggalkan rumah Rhena tanpa berani memandang Dzikri lagi.

aku tak memiliki banyak cara tuk buatmu jatuh hati. .
aku hanya punya banyak waktu. .
detik tak berhingga dalam ketidak tahuanmu. .
seperti bias sinar, tak terhitung seberapa kilaunya. .

Sampai rumah aku tak bisa tidur, aku tak mengerti apakah hubungan mereka sudah begitu dekatnya sampai Dzikri sudah tidak sungkan menginap di rumah Rhena, jam dinding sudah menunjukkan pukul 24.00 dan mataku masih belum bisa dipejamkan. Ku buka tas dari Rhena sambil melihat arsip-arsip pada kepemimpinan Rizal, kukeluarkan seluruh isi tas dan kutemukan satu VCD. Ku letakkan VCD itu sambil mencatat arsip apa saja yang sudah di di tangan.

Lelah juga me-list arsip-arsip kepengurusan BEM yang lama, sudah hampir satu jam dan aku masih belum juga bisa terpejam, bayang-bayang Dzikri dan Rhena terus-terusan melayang di benakku, dan aku tak bisa berhenti dari segala pikiran negatif tentang mereka. Aku terbangun, ku ambil VCD yang tadi ku letakkan di meja, tiba-tiba aku merasa tertarik untuk melihatnya.
“Jangan-jangan ini film tentang demo mahasiswa taun ‘98,. Wah seru nih. . .”
Aku keluar dari kamar sambil menyetel VCD yang kelihatannya seru untuk menemaniku begadang.

Saat memutarnya, aku melihat ada bayangan hitam, samar-samar terlihat ia berjalan pelan-pelan. Nampak ia masuk dalam ruang BEM dalam keadaan yang amat gelap, sesekali ia menoleh kanan kiri dan belakang seperti ingin mengambil sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain. Ia membuka kotak suara, ya,,kotak suara perhitungan pada saat aku dan Dzikri mencalonkan sebagai ketua BEM. Ia membuka paksa kotak itu, alangkah terkejutnya aku melihat ia menukar semua suara Dzikri dengan beberapa surat suara yang ia bawa dalam tas yang ternyata adalah surat suara yang semuanya ia tulis sendiri dengan namaku. Ia telah selesai dengan aksi gilanya, aku masih penasaran. Dia berjalan dan tiba-tiba wajahnya terlihat dari samping, dan aku sangat mengenal wajah ini. “Iqbal. . .?”
“Ya Alloh, ternyata kemenanganku tidak lebih dari kecurangan Iqbal.”
Air mata menetes perlahan mengetahui apa yang baru saja ku lihat, sudah separo dari kepemimpinan yang ku pegang dengan cara licik. Aku malu, aku bingung. Dan Rhena, darimana dia mendapat VCD ini? Berarti dia sudah tahu kalau Dzikri yang seharusnya menjadi ketua BEM. Tidak mungkin juga dia menyembunyikan hal ini dari Dzikri.

Pagi-pagi sekali aku menelfon Iqbal menanyakan apa yang kemarin aku lihat dalam VCD yang aku dapat dari tas Rhena, Iqbal masih mengelak dengan interogasiku.
“Sayang, itu kan gelap, belum tentu yang kamu lihat itu aku. Bisa jadi hanya mirip aja.”
“Enggak Iqbal, walaupun gelap tapi aku hafal sama baju yang kamu genakan, sama postur tubuh kamu, wajah kamu meskipun samar tapi aku tau itu kamu.”
“Kamu gak punya bukti apa-apa buat nuduh aku kayak gitu sayang. .”
“Aku juga liat tas yang kamu bawa itu sama seperti yang biasa kamu pake’. Udahlah kamu ngaku aja. Siapa lagi yang ngotot pengen aku menang kecuali kamu? siapa lagi yang berani melakukan hal seperti itu kecuali kamu?” Suaraku sedikit agak membentak, aku marah karena dia tak kunjung mengaku padahal sudah jelas bahwa dia pelaku kecurangannya.
“Memang itu aku, terus kenapa? kamu marah?” Dia menjawab dengan nada tinggi.
“Jelaslah, buat apa kamu nglakuin itu? aku gak suka pake’ cara kotor. Lebih baik aku kalah dengan terhormat daripada menang tapi dari hasil kecurangan.”
“Kamu pikir aku berbuat begitu buat apa? buat kamu juga, karena aku ingin ngebahagiain kamu.” Dia membentak
“Aku sama sekali gak bahagia dengan cara kotormu, kalo aku tau dari awal, aku gak akan pernah mau pacaran sama kamu.”
“Terus sekarang kamu mau apa? Putus? Oke kita putus, toh selama ini kamu gak pernah mencintai aku. Aku udah bela-belain kamu yang di demo puluhan mahasiswa udah gak ada artinya lagi. Aku tau kamu nerima cintaku karena kamu ingin ada orang  yang melindungi di saat semua orang memusuhimu.”
Telfon itu mati di saat aku ingin memberikan sanggahan, aku tau Iqbal amat baik, tapi bukan berarti dia memakai cara seperti ini untuk membahagiakanku, aku sama sekali tak suka.

Di kampus, aku mendatangi Dzikri dan Rhena yang sedang ngobrol di belakang aula kampus, ku beranikan diriku untuk meminta maaf hari ini.
“Maaf mengganggu sebentar Dzikri.” Kataku tanpa berani menatap wajahnya.
Obrolan mereka terhenti, Dzikri mendatangiku “Ada apa Az?”
“Aku baru tahu semuanya Dzik, tentang perbuatan Iqbal saat pemilihan BEM, tentang kamu yang harusnya jadi ketua BEM. Maaf aku baru tahu, sebenarnya sejak lama aku sudah merasa janggal dengan terpilihnya aku, tapi aku gak nyangka kalo ternyata Iqbal melakukan kecurangan demi memenangkan aku, aku gak pernah memintanya untuk itu. Aku minta maaf sekali.” Suaraku terputus menahan tangis, ku lihat dia hanya diam memandangku dengan tatapan memelas.
Ku lanjutkan perkataanku “Aku udah ngomong sama pak Yogi supaya besok melantikmu, aku sudah menjelaskan semuanya lengkap dengan surat pengunduran diriku.”
“Kamu tu lebay banget sih Az, tinggal beberapa bulan udah jalanin aja gak usah ganti segala. Peristiwa itu lupain aja, aku gak papa ini.”
“Enggak Dzik, aku gak mau gara-gara ini kamu dendam terus melakukan berbagai cara untuk menghancurkan aku. Termasuk menyuruh anak-anak PMI mendemoku seperti kemarin.”
“Siapa yang bilang kayak gitu?”
“Udah jelaslah, gak mungkin mereka jalan tanpa di suruh sama ketuanya, dan gak akan berhenti juga kalo gak di hentikan ketuanya.”
Dzikri hanya menatapiku tanpa memberi penjelasan dengan apa yang ku ungkapkan, mungkin permintaan maaf bukanlah hal yang penting sampai dia tak merespon sama sekali.
“Sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan Iqbal dan semua yang terjadi kemarin.”
Ku balikkan badan sambil melangkahkan kaki meninggalkan mereka, tak terasa air mata jatuh juga membasahi pipi. Dia sama sekali tak menjawab dan tak memberi pembelaan apapun terhadap tuduhanku terhadapnya.

Ku putuskan mengambil cuti satu semester untuk menenangkan diri dari semua yang telah menimpaku. Entah aku lebay seperti kata Dzikri aku tak tau, tapi rasanya hal-hal yang tak ku inginkan mendatangiku bertubi-tubi. Kini aku berlibur di rumah pamanku di Solo, aku hanya memberi tahukan ini pada keluarga dan Naira, aku meminta mereka untuk tidak memberitahukan keberadaanku pada siapapun, karena aku hanya ingin tenang tanpa ada gangguan.
Tak terasa sudah dua bulan aku di sini, hari-hariku di sini cukup menyenangkan, hampir setiap hari aku keluar untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota batik ini.

Siang yang panas dengan terik matahari cukup menyengat kulit, aku yang biasa keluar hari ini berdiam diri di rumah saja, terdengar bel rumah berbunyi. Nampaknya sepupuku belum pulang sekolah dan pamanku masih bekerja, ku buka pintu rumah.
“Assalamualaikum Azwa.” Aku kaget bukan main melihat Rhena di depan pintu.
“Wa,,walaikum salam, silahkan masuk. . “
“Kaget ya Az aku sampek sini??” Tanyanya sambil masuk ke rumah.
“Darimana kamu tahu aku di sini?”
“Adaaa aja.” Jawabnya tersenyum
Aku mengambilkan Rhena minum dan beberapa makanan, “Gak usah repot-repot.”
“Gak papa Rhen, tamu jauh mesti dikasih jamuan special.” Kataku tersenyum.
“Nanti aku nginep sini boleh gak??” Tanyanya mengejutkanku, dalam hatiku bingung mau jawab apa, karena aku sendiri numpang masak ada yang mau numpang aku.
“Jangan bingung Az, aku ke sini buat jemput kamu. Besok kita pulang sama-sama ya. .”
“Wah,.liburanku belum selesai di sini Rhen. . .”
“Ini kan bukan waktunya liburan Az,. Waktunya kuliah. .”
“Aku cuma pengen….”
“Nenangin diri?” Tanyanya memotong pembicaraanku.
“Aku datang jauh-jauh karena pengen jelasin semuanya ke kamu Az.”
“Jelasin apa Rhen?”
“Aku mulai dari demo mahasiswa kemarin, aku minta maaf banget, itu semua ulahku. Aku masih dendam sama kamu gara-gara kamu belain Naira soal acara pensi kampus. Pagi sebelum anak-anak demo, Dzikri udah memohon sama aku supaya aku menghentikan rencana itu. . . .”

“Otak lu bener-bener anak kecil kalo sampek jadi ngomporin anak-anak buat demo ke Azwa. . .”Kata Dzikri
“Suka suka gua, salah siapa bikin gua malu di depan anak-anak. Gua udah gak bisa tahan, tiap liat dia gua pengen bales lebih dari yang udah dia lakuin.”
“Azwa cuma belain panitia pensi, bukan maksud dia mojokin lu”
“Gua gak mau tau, anak-anak PMI udah siap semua.”
“Apa lu bilang? Anak-anak gua lu giring buat demo Azwa??, gila lu!” Dzikri kaget bukan main, dia nampak begitu khawatir.
“Semua udah tinggal jalan Dzik, sorry ya. .”
“Please Rhen, gua mohon jangan kayak gitu.” Dzikri bersimpuh di depan Rhena yang duduk di kursi.
“Sorry Dzik, kali ini gua bener-bener gak bisa. Lu udah nglarang gua nyebarin CD tu gua nurut, tapi kali ini gua gak bisa, terlanjur gua sakit di bikin malu sama dia.”

“Itulah saat aku melihatmu lewat dan memandang kita seolah Dzikri menunduk di bawah kakiku. Dan kejadian waktu kamu di demo memang Dzikri terlihat hanya melihat dari jauh bersamaku, tapi dalam keadaan tenang kita berdebat. Setelah demo berakhir Dzikri berantem sama anak PMI yang udah ngomporin teman-teman mahasiswa, sempat gak masuk beberapa hari karena wajahnya lebam-lebam. Itupun pasti kamu gak tau, karena yang kamu kagumi adalah Iqbal yang berdiri di depanmu menahan teman-teman yang melemparimu telur busuk..”
Aku tercengang mendengar cerita Rhena, antara percaya dan tidak dengan apa yang dia katakan. Bahkan aku tak memiliki jawaban untuk mengimbangi ceritanya, aku seperti terus ingin mendengar cerita tentang Dzikri yang membelaku.

“Udah puas dengan ini semua?” Tanya Dzikri. Mereka hanya berdiri bersebelahan di bawah pohon memperhatikan demo dari kejauhan, tapi saling berdebat.
“Puasss banget. . .”Jawab Rhena tertawa senang.
“Kalo sampek Azwa kenapa-napa, gua bikin lu lebih malu lagi dari dia.”
“Lu ngancem gua?” Tanya Rhena tanpa merubah posisi berdirinya.
“Lu liat cowok yang teriak paling keras itu?, selesai ini gua habisin dia.”
“Lu kenapa takut banget Azwa di apa-apain mereka?, gua liat daritadi lu gak tenang ngliat dia di buli. Kenapa lu gak belain dia aja sekarang?”
“Dia gak akan percaya sama gua karena yang demo anak PMI, dia pasti akan anggap gua bermuka dua”
“Kasian banget sih lu. .” Kata Rhena dengan tawa sinisnya.
“Gua lebih kasian sama lu, yang dendam elu tapi yang nyerang orang lain. Ngadepin Azwa sendiri aja gak berani. . .”  Rhena diam tak membalas ucapan Dzikri.

“Dzikri jarang sekali ngomong tanpa ada kepentingan, dia juga jarang membela seseorang tanpa tau orang itu benar, setelah beberapa hari aku mulai sadar sikapku terhadapmu salah. Terakhir waktu kamu datengin kita pas sebelum ke sini, aku marahin dia gara-gara gak ngejelasin yang sebenarnya ke kamu. . .”

“Kenapa lu gak jelasin yang sebenarnya terjadi?” Tanya Rhena setelah aku meninggalkan mereka.
“Buat apa?”
“Dia tu salah paham sama lu. .”
“Biarin aja.”
“Kalo lu jelasin yang sebenarnya, dia gak akan kayak gitu Dzik.”
“Dia udah punya pendapat sendiri, gua gak suka sama orang yang begitu cepat menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya.”
“Gua kalo jadi dia juga bakal salah paham Dzik, dia butuh elu, dia butuh lu ngomong yang sebenarnya terjadi.”
“ Lu juga gak usah ikutan sok tau kayak dia..”

“Itu kata-kata Dzikri, saat tau kamu ngambil cuti kuliah dan menghilang tiba-tiba, dia sering sekali nglamun, sering mengantuk pas kuliah gara-gara malamnya gak bisa tidur. Tapi dia gengsi, gak pernah mau cerita tentang perasaannya sama siapapun.”
“Rhen, aku cuti kuliah sama sekali gak ada hubungannya sama Dzikri. Aku tau kalian berdua memiliki hubungan special.”
“Enggak Az, Dzikri itu sepupuku, emang gak banyak yang tau dan ngira kedekatan kita aneh-aneh, tapi sebenarnya kita saudara, serius.” Rhena menjelaskan.
“Dia menyayangimu Az, selama ini dia berlagak cool, sering beda pendapat saat rapat BEM, semuanya cuma karena ingin mencari perhatianmu. Dan soal CD yang kamu temukan, CD itu awalnya ditemukan Dzikri di ruang CCTV yang diam-diam di pasang Rizal di ruang BEM, dia udah brantem sama Iqbal soal itu, tapi mereka sepakat untuk diam dan melupakan CD itu. Dia minta aku simpan, aku lupa naruh di tas campur sama arsip-arsip BEM yang kamu minta. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, aku juga mau nyampek’in maaf yang dititipkan Iqbal untukmu.”
Aku terbelalak tak bisa berkata apa-apa, bingung dan senang tak bisa ku bedakan, mendadak aku jadi bisu dan tak dapat menjawab maaf dari Rhena.
“Ini sekalian aku mau antar undangan pernikahan.”
Sambil terbengong ku ambil undangan itu dan ku buka “Kamu mau menikah sama Iqbal? Gimana ceritanya?” Aku semakin tak mengerti dengan drama yang ku hadapi.
“Makanya pulang dong non, biar tau gossip artis terbaru.” Rhena tersenyum lalu melanjutkan ucapannya ”Dia udah nunggu kamu terlalu lama, jangan buat dia terlalu banyak melamun dan begadang gara- gara mikirin kamu.” Rhena yang duduk di sampingku merangkul pundakku, tak terasa air mata haru jatuh dari mataku, ku tutup wajahku dengan kedua tanganku tak mampu membendung tangis bahagia, Rhena terus memelukku.

Akhirnya aku kembali juga bersama Rhena ke tanah kelahiranku, kembali ke kampus tercinta, dan…..kembali melihat dia.
“Sudah sembuh galaunya?” tanya Dzikri menatapku, aku hanya tersenyum tanpa mampu berkata. “Ngapain kamu pulang?” tanyanya lagi.
“Aku…..”
“Mau melihat caraku memimpin BEM?” Dia tersenyum lalu berkata lagi.” Jangankan memimpin BEM, jadi imam kamupun aku siap. Aku hanya tidak siap kalo jadi pacarmu, sama abi gak boleh pacaran soalnya.” Kami tersenyum bersama.
Entah kenapa aku tak mampu berkata-kata, hanya tersipu malu saja.

Jangankan perkara jodoh. .
Satu daun yang jatuh dari pohonpun tak luput dari campur tangan Alloh. .
Maka dari itu bertawakkalah. .
Jodohmu tak kan jauh dari duniamu. .
Artis akan dapat jodoh artis. .
Yang terlahir dari organisasi juga mendapat jodoh dari sana. .
Maka itu carilah dunia yang baik. .
Karena jodohmu ada di sekitar itu. .

One Response to “Kekuatan Cinta II”
  1. destya says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CLOSE
CLOSE